Mimbar Kampus PR : 17 Mei 2005

Muda,Berjiwa Usaha
Oleh Irni Resmi Apriyanti

MANUSIA terkadang tidak pernah puas, dengan hasil yang pernah tercapai. Selalu ada lebih dari dua tujuan. Setelah lulus SMA, pastilah ada niat melanjutkan ke perguruan tinggi. Meski lulus menjadi tukang insinyur, tentu ada keinginan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, bekerja dan mendapatkan kebahagiaan (baik secara materi ataupun bukan).

Banyak alasan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Di antaranya, meningkatkan status sosial keluarga atau pribadi, sekadar mencari gelar, mencari link, atau bahkan sebagai investasi masa depan mencari kerja.

Masih banyak yang berpikiran, makin tinggi pendidikan yang dienyam, prospek masa depan untuk mencapai keinginan jauh lebih terang dari kebanyakan orang. Tetapi terkadang kenyataan berkata lain, pendidikan yang didapat tidak sesuai dengan lapangan kerja yang dibutuhkan.

Bahkan tak jarang sekelompok insinyur ber-IQ tinggi bergelut di bidang usaha, yang sangat jauh dari latar pendidikannya. Sebab mereka tidak cukup beruntung mendapatkan posisi yang diidamkan. Tidak ada yang salah dengan realita semacam itu. Sah-sah saja.

Jadi, segala sesuatu banyak bergantung pada orangnya. Kata-kata bergantung pada orangnya ini menunjuk sikap mental (mental attitude), strategi bagaimana menyikapi hidup untuk mendapatkan keinginan. Separuh dari permainan hidup dimenangkan oleh sikap mental, kata Danny Ozark (Halfthis game is 90% mental).

Mark Twin pernah bilang, hidup ini bukan persoalan kartu apa yang kita terima, tapi kartu apa yang kita pilih untuk kita jatuhkan. Salah satu hukum yang pernah digagas oleh Aristotle, The law of success (hukum merealisasikan tujuan bertahap). Isinya, apa yang menjadi keharusan bagi kita yang ingin merealisasikan tujuan itu? Merumuskan tiga hal inti yaitu:
1) kejelasan keinginan, 2) kejelasan alat yang kita pilih, 3) kejelasan sikap mental yang kita pilih.


Pertama kali milikilah tujuan hidup yang jelas. Kedua, milikilah cara untuk mencapai tujuan. Cara itu beragam dan bisa anda pilih: materi, metodologi, uang, atau kepribadian. Ketiga, gunakan yang anda miliki untuk mencapai tujuan.

Wirausaha mungkin menjadi alternatif terakhir bagi sebagian orang, karena ia telah selesai masa kerjanya, di-PHK atau tidak mendapat keberuntungan mendapatkan kerja. Dengan berwirausaha berharap dapat terus mencari nafkah.

Di era globalisasi, bukan hanya gelar yang didapat, banyaknya warisan yang ditinggalkan keluarga, atau koneksi yang ada, yang menjamin kesuksesan finansial. Tetapi banyak faktor yang t kita sepelekan. Di antaranya, mulai berpikir meningkatkan kualitas EQ daripada IQ, dan berpikir kreatif dalam menentukan langkah.

Richard Carlson dalam bukunya berjudul Dont Worry make Money menulis, setiap orang dapat bekerja keras, kreatif, pintar, berbakat, berwawasan luas. Tapi jika tidak dapat memahami pentingnya pikiran sendiri dalam proses kreasi, semua akan sia-sia.

Gunakan imajinasi untuk menciptakan impian. Samuel Butler, hidup ini seni, life is an art. Yang menunjukan keindahan sebuah kreasi lebih banyak ditentukan oleh sikap mental untuk menyentuh, dan proses yang mengitarinya, bukan hanya tergantung bahan yang ada.

Orang tua mungkin tidak akan setuju jika kita, remaja harus bekerja sekadar mencari uang saku, sehingga melalaikan tugas. Tetapi bagaimana jika menunjukkan, kita bekerjasama dengan diri sendiri, untuk sendiri, dengan menggali dan mengembangkan potensi positif dari diri kita sendiri, tanpa meninggalkan bangku pendidikan

Jangan pernah gengsi untuk berdagang! Karena banyak alasan dasar suksesnya seorang pengusaha yang merintis dari nol, adalah berdagang. Seiring dengan waktu, berdagang meluas artinya.

Jangan cemas! Keinginan berbicara, berhitung, menulis, berkarya rupa, membuat acara, jalan-jalan, bermain komputer, menjahit, menonton drama, bertanam, bermusik, berdagang ataupun memasak, mesti dijadikan modal awal pengembangan bakat terpendam.***
Penulis, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB jurusan Kria Tekstil.

Comments